Aku ikhlas, sudah.
Kamu sangat pandai menulis puisi dan karena itu aku jadi menyukaimu.
Dulu, kita sering bertukar puisi.
Sebelum tidur, kamu membuat puisi tiga baris untukku dan kubaca lewat layar ponselku.
Kubilang Terimakasih,
Tapi kamu menyuruhku untuk membuat puisi juga. Aku tak sepandai kamu dalam merangkai kata.
Kubalas seadanya saja waktu itu. Lalu tanpa membalas puisiku kembali, Kamu memintaku tidur. Aku hanya tertawa. Oh iya. Kamu kan tidak bisa tidak tidur pada pukul 10 keatas. Aku sebaliknya. Tapi malam itu pukul 10 tepat. waktu kita habis. Jadinya gantian aku yg menyuruhmu tidur duluan. Hehehe.
Puisi-puisi yang kamu tulis dan yg mereka baca di media sosialmu itu untukku kan?
Puisi itu lahir dari percakapan kita.
Saat aku marah. Kamu membuat puisi untukku.
Saat aku bahagia apalagi.
Hidupmu dengan puisi.
Dan aku merasa aku selalu abadi dalam bait-bait yang kamu rangkai.
Puisi yang tidak murahan.
Mengandung ketulusan, rasaku.
Saat waktu terus berjalan dan ada hal yang tidak bisa diteruskan. Aku meminta pengertian darimu. Kubilang, coba letakkan hubungan kita ini hanya kepada Tuhan bukan hanya dengan kebahagiaan yang belum pasti. Kita akan ketemu diwaktu yang tepat, kataku. Kita akan bersama dalam ikatan yang direstui semesta. Aku akan mewujudkan puisi terindahku dengan menghadirkan kamu dihadapanku. Sementara itu, aku berjibaku bernegosiasi dengan diriku agar berbenah, mempersiapkan diri untuk masa-masa bahagia itu. Kelak hidupku akan jadi hidupmu juga kan?
Apa kau percaya?
Saat waktu tidak berjalan mundur dan terus melaju. sekarang aku mendengar kabar bahwa kamu telah membakar puisi kehidupan kita dengan seorang yang kamu sebut pelipur lara selama kepergianku. Kamu kenapa? Apa aku salah? Apa aku mengambil langkah terlalu jauh?apa kamu muak dengan puisi kita?
Aku harus apa?
Kamu kembali dengan pertanyaan yang sama sekali tak kuduga,
"Kamu ikhlas? " Waktu itu hanya hening yg menjawabnya tapi sekarang, dengar...
"Aku ikhlas, sudah"
Sayang,
Aku tidak bisa menjadikanmu kenangan karena kau pernah memintaku menjadi pasangan.
Pergilah dengan langkah terbaikmu. Bersama seseorang yang bukan aku.Jika memang itu maumu.
Qays bilang pada Layla, biarkan cintaku menjadi penjaga rahasiaku. Biarkan penderitaan yang dibawa oleh cinta merengkuh jiwaku! Bagiku tak masalah jika tak ada obat yang dapat menyembuhkan penyakitku. Selama kau baik-baik saja, maka penderitaanku tak berarti apa-apa.
#30haringeblog
#blogjanuari
#blogkeduabelas
#catatangalau
Comments
Post a Comment