Angkot Hijau Tua
Pict by Google
Angkot Hijau Tua
(True story at 2014)
Angkot hijau tua
Aku kesal. Sepatuku kotor lagi. Padahal baru kemarin kucuci sekinclong-kinclongnya dan kini hasil sepatu yang kucuci kemarin tidak ada artinya. Ini semua gara-gara air yang turun dari langit itu. Hujan!!
“kenapa sih hujan mulu, kenapa nggak sekalian banjir aja biar hanyut nih sepatu!” ocehku tak henti-henti. Bagaimana tidak! Bukan hanya sepatuku yang kotor akibat genangan air dari hujan tersebut. Tapi juga rok SMA yang kukenakan ikut terciprat. Hrrgghh.
Kuamati angkot yang lewat. Tidak ada yang mau berhenti di depanku. Muatannya full dan beberapa memang tidak mengarah ke sekolahku. Dari kejauhan mataku menangkap angkot berwarna hijau tua. Dia mendekat.
“inpur dek” sapa sopir angkot yang wajahnya sama sekali tidak fresh, wajar karena didominasi keriput-keriput.
“yo’i wak” sahutku sambil melangkah naik lalu duduk di bangku sebelah kiri.
Angkot melaju tenang..
Seorang siswa SMK yang duduk disebelah kiriku tersenyum ku balas senyumnya dengan cengiranku. Matanya memerhatikan ke bawah tepatnya memerhatikan sepatuku. Aku santai saja, aku paham bahwa cowok SMK itu heran dengan sepatuku yang belepotan lumpur.
“peduli amat” gumamku. Untuk mengurangi rasa jengah di angkot tak berAC ini[ya iyalah, masa angkot berAC. Dasar penulis gebleg, emang angkot presiden apa!] aku menembangkan si “my love” milik westlife. Lagu lapuk yang saat ini jadi lagu favoritku. Ketika mulai menyanyikan lirik yang pertama. Semua penumpang angkot menoleh padaku. Raut wajah mereka seumpama tungir yang terselip dalam pori-pori kulit. Ingin menyabutnya segera dan aku tau akulah sang tungir itu!
Apa salahnya sih aku menyanyi. Lagian suaraku tidak terlalu sumbang. Tapi pernah waktu itu aku pulang sekolah dengan becak. Aku menyanyikan lagu listen punya beyonce. Ketika sampai di nada tinggi, suaraku tak sanggup namun terus kupaksa. Om becak yang mengemudi becak terperangah dan bergidik sekilas ia seperti tersedak lalu membuang dahaknya ke pinggir jalan.
“aduh dek, banyak dahaknya tuh kerongkongan. Coba deh dibuang dulu”ujarnya.
“nggak ada dahaknya kok om” balasku bokis.
“berarti suaranya yang mesti di buang,hehehe”
*****
Sepuluh menit lagi aku tiba di sekolah. Satu penumpang turun dari angkot. Tersisa lima penumpang lagi. Aku, anak SMP, anak SMK, ibu-ibu gondrong yang hendak pergi belanja dan seorang manula yang…
“ih..” pekikku spontan ketika melihat kakek tua itu. Penampilannya memiriskan. Kulihatnya hitam keriput, tubuhnya kecil ringkih. Tak kusangka, ia buta! Tanganya memeluk sebuah karung goni buram yang berisi. Entah apa yang ada di dalamnya. Di sisi kanannya terletak tongkat kayu dari batang singkong. Kuduga itulah tongkat yang ia fungsikan untuk menuntun arah jalan. Aku ngeri memandangnya. Baju yang ia kenakan persis kumalnya dengan mukanya yang lebih ngeri, sepasang kakinya hanya dihiasi sebelah sendil jepit yang nyaris tak layak pakai, kakinya seperti habis terpanggang, hitam hangus. Apalagi jari-jari kakinya sudah tidak sempurna lagi. Aku ingat kata ibu jika ada orang yang jari-jari kakinya buntung berarti dia terserang diabetes kronis.
Aku merinding. Kulemparkan pandanganku sejenak ke sekeliling. “apa hanya aku yang memperhatikan kakek tua itu? Orang-orang ini mengapa tak acuh? Apa si kakek orang gila? Namun mengapa orang gila naik angkot?” tanyaku entah pada siapa dengan suara hati yang mulai tersentuh. Pandanganku kembali mengarah pada kakek itu. Sampai-sampai anak SMK tadi menjawil pundakku. Aku menoleh.
“cieh, yang lagi naksir. Ajak kenalan dong kalau demen”godanya. Aku tak menggubris keparat itu.
Pandanganku kembali berkutat kearahnya ketika ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan selembar lima ribuan, tiga lembar uang dua ribu dan empat lembar seribuan. Uang itu diciuminya bergantian. Tingkahnya sangat-sangat aneh. Aku semakin tak percaya saat ia menyodorkan selembar lima ribu kepada ibu-ibu yang ada di sebelahnya.
“ini lima ribu ya?” tanyanya pada ibu itu yang dibalas dengan mengiyakan. Ia kembali menciumi uangnya yang lain dan kembali bertanya.
“kalau ini seribu kan?”tanyanya lagu. Si ibu kembali mengiyakan. Ia kembali menciumi uang itu bergantian dan kembali bertanya.uniknya, setiap kali ia minta diyakinkan berapa nilai uang itu pada ibu-ibu disebelahnya, tebakannya tidak pernah meleset. Agaknya ibu-ibu yang disebelahnya jenuh ketika keempat kalinya si kakek menanyainya. Ibu itu lebih memilih diam dan aku yang menyahut.
“iya kek, itu dua ribu”. Ia pun berterima kasih padaku lalu memasukkan kembali uang itu ke dalam saku bajunya yang lecek.
Wah wah, yang betul saja, dari mana ia dapat tahu nilai uang itu hanya dengan menciumnya terlebih dahulu? Betul-betul diluar dugaanku.
“kiri wak”teriakku pada sopir itu. Huh, nyaris saja terlewat. Kulirik kakek itu sekali lagi sebelum aku urun. Setelah turun, aku teringat..
“bagaimana ia menyetop angkot itu ya? Dan kemana ia akan turun? Ah, seharusnya itu kutanyakan padanya”
Sepulang sekolah, aku mengisahkan kejadian pagi tadi pada ibuku. Ibu tersenyum.
“terus kakek itu kamu beri uang?”
“nggak bu. Uangku pas-pasan untuk ongkos pulang nanti”..
“ya sudah, yang terpenting doakan saja kakek itu agar selalu sehat”
“iya bu, tapi kok bisa begitu ya bu. Aku jadi kasihan pengin bawa pulang”
“sebagaimana mestinya. Allah menciptakan manusia dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. seseorang yang mempunyai kekurangan yang menonjol akan mempunyai kelebihan yang menonjol pula”
Aku mengangguk, air mataku hamper meleleh.
Angkot hijau tua, memberikanku pengalaman bertemu orang itu, dan orang itu memberikanku pelajaran. Ini bukan saja tentang kelebihan dan kekuarangan, tapi ini adalah tentang bagaimana cara kita untuk bersyukur. Orang itu tetap mau hidup dengan kondisi menyedihkan seperti itu.
Oh, rasanya aku ingin membelikannya sepasang sandal jepit agar dia lebih lancar “menjalani” kehidupannya.
Sampai detik ini aku tetap mengingatmu kek..
jika kebetulan aku menaiki angkot berwarna hijau tua. Semoga Allah membantumu untuk menapaki hidup yang serba tak kupahami.
#30haringeblog
#blogjanuari
#blogketujuh
#cerpen
#truestorie
#angkothijautua
Comments
Post a Comment