Menjadi Penulis #2
Akan kukasih tau mimpiku dulu ingin melanjutkan kuliah dimana saat kuliah yah hehe. Sastra Indonesia di UI 😂. Yah gak apa-apalah bermimpi, bebas sih kan gratis😋. Tapi tau dirilah. Jangankan di UI, di USU aja nggak sampai. Soalnya dulu aku nggak lulus SNM dan SBM Ditambah lagi nggak ada keluarga yg dukung satupun pilih jurusan itu. Mana semangat🙃
Terus sekarang terdampar di Fakultas dakwah lewat jalur SPAN. Kata sebagian keluarga, itu mimpi buruk. Katanya mau jadi apa kuliah fakultas dakwah? Mau jadi mamah dedeh? Hahaha mereka nggak tau apa aku tuh mau jadi istri solehah untuk kamu dan anak-anak kita mas. Hmmm. ya jadi mamah dedeh versi muda dan cantik malah bagus kan yah? Hehehe.
Meski kuliah di Fakultas dakwah adalah pilihan yang kesekian. Bahkan itu bukan pilihan, itu karena nggak ada lagi pilihan makanyaaaa ya sudahlah. Jalani saja. Lapangkan dada, semua akan terasa indah kan?
Kuliah di Fakultas dakwah nggak jauh-jauh dari dunia menulis. Meski nggak menulis naskah drama lagi, tapi menulis naskah berita. Semenjak kuliah, aku nggak pernah menulis naskah lagi. Terakhir kutulis saat semester satu dan berakhir dengan penampilan teater saat acara mauludan di Desaku dan hasrat untuk menulis itu juga tidak sebesar dulu. Aku bahkan tidak memedulikannya lagi. Suasana di kampus sangat berbeda dengan masa-masa sekolah. Dan bahkan itu mengubah kepribadianku karena sosial yang kuhadapi jelas tak sama.
Mimpi menjadi penulis lambat laun memudar, aku nggak pernah menulis lagi di buku tulis, apalagi mengetiknya di Laptop. Kalau di suruh teman menulis dan diterbitkan di media massa, aku harus berpikir beberapa kali untuk mau. Aku juga tidak terlalu banyak membaca seperti dulu. Lebih banyak bermain sosial media. "Makin kesini makin nggak berguna". Aku ingat sekali aku punya seragam kompak dengan teman sekelas. Baju tersebut dicetak dengan nama
" Dreamer"
Aku seorang pemimpi. Namun nampaknya perempuan yang sedang menulis ini, tak pernah lagi mengklaim bahwa dirinya seorang mimpi. Bahkan dia takut untuk bermimpi. Dia takut untuk meraihnya. Dia tak percaya pada dirinya sendiri. Dia merasa takut untuk menyicipi kegagalan. Dia lemah sekali. Dia bukan pemimpi lagi. Dia bukan dirinya lagi.
Sesekali dia menyadari kalau niatnya tulus, pasti Allah akan membantunya untuk mewujudkan apapun yang ia mau. Ia benci sekali dirinya yang sekarang. Pengecut.
"Dulu kamu pemimpi Aissy, namun sekarang kenapa jadi pemalas? Sebabnya apa? Karena tulisanmu dibilang jelek? Bukankah kamu bisa belajar terus menerus biar supaya tulisanmu bagus? Karena kamu jarang baca makanya tulisanmu nggak berisi dan kamu merasa gagal? Kamu sih main mulu, main boleh Ais, tapi nggak buat kamu jadi nggak fokus sama impian kamu gini dong. Kamu juga harus pede sama hasil tulisan kamu. Dikit dikit dibilang alay, nggak layak. Semua butuh proses dong Ais. Inget nggak dulu kamu itu pernah hampir mau nyelesaiin naskah novel tapi gara gara bukunya hilang kamu jadi berhenti dan gak semangat lagi. Ah payah, gitu aja payah kamu. Terus kamu maunya apa sekarang? Tiap tahun kamu minta sama Allah supaya bisa nerbitin novel atau buku ciptaanmu tapi kamunya aja yang nggak gerak. Dasar labil. Mau kamu apasih sekarang hah?"
Hei lihat, diriku sedang bertanya padaku: ") Dia ini nanya apa marah-marah sih? Kok aku mewek☹
#30haringeblog
#blogjanuari
#blogkesepuluh
Oalaaa mamah dedeh yang pengen nulis buku wkwk
ReplyDelete