Sahabat🚫




Udah selesai nulis blog minggu pertama di #30haringeblog. Alhamdulillah finally bisa tepat juga. Ga ngutang tulisan meski semua tulisan sebelumnya cuma bacotan aja🤣

Minggu ini temanya teman/sahabat.

Oke. 

Ngomongin tentang temen, dari kecil aku nggak terlalu punya banyak temen. Aku lebih suka sendiri. Main boneka sendiri, main akting-aktingan sendiri, dan boleh dibilang, teman main waktu kecil di Desa tempat tinggalku pun tidak ada. Loh bukannya seharusnya anak kecil punya banyak teman? Iya iya, tenang dulu. Jangan lantas mengatakan bahwa aku tidak waras, setidaknya waktu sekolah Madrasah Ibtidaiyah, aku punya banyak teman main. Maksudnya, mereka yang main, aku melihat saja hehehe. Ya, aku seperti itu dulu.

Waktu Madrasah Tsanawiyah, barulah aku mulai punya banyak teman main. Teman bercerita. Teman satu pikiran. Dan sanking seringnya bersama, kami membentuk geng bernama RSSTU sampai-sampai guru IPS kami juga tau nama geng kami yang sering disebutnya Restu. Mereka seru, menyenangkan, dan yang paling utama, mereka adalah sahabat. Ya, cuma mereka yang kusebut sahabat waktu itu. 

4 orang paling gila yang selalu mengerti aku, paling ribut menggoda ada adik kelas yang tampan, melabrak siswa yang sok cantik, menyuruh aku mengadu ke guru BP saat di kelas ada yang pacaran, memanjat pohon di belakang sekolah sampai tumbang, selalu baris di belakang saat upacara, dan apalagi ya? Hal yang paling aku rindukan adalah, saat kami menangis bersama karena cerita-cerita kami. 

Beranjak SMA, semua berubah. Masing-masing dari kami sekolah di tempat yang berbeda. Satu dari kami bahkan sudah menikah dan memutus kontak. Satu lagi jarang berkabar. Tersisa dua yang saat ini tidak pernah ketemui lagi.

Di masa SMA, aku punya banyak teman. Teman cerita, meski belum bisa kusebut sahabat seperti RSSTU, pertemanan di masa SMA-ku berkubu-kubu. Artinya sebagian dari mereka punya circle pertemanan masing-masing. Aku? Aku tidak punya. Aku masuk saja ke semua circle yang mereka buat. Masa SMA tidak terlalu menyenangkan. Hanya punya sekedar teman cerita biasa-biasa saja tapi jujur hal itu dirindukan juga sampai sekarang. Aku sangat yakin bahwa tidak ada teman SMA yang mengingatku apalagi merindukanku. Ada beberapa teman SMA dulu yang cukup asik untuk diajak cerita dan tertawa bersama, tapi lambat laun semuanya jadi hambar. Entah apa salahnya aku tak tahu, aku mencoba untuk akrab kembali tapi euforianya berbeda. Susah juga kalau bukan bagian dari circle tersebut.🙃

Masuk dunia perkuliahan, hanya sebelas dua belas seperti SMA, sebagian punya circle masing-masing. Aku? Tetap tidak punya haha. Di sisi lain ada beberapa teman cerita yang menyenangkan. Tapi aku takbisa menyebutnya sahabat. Entah kenapa, semakin usia bertambah, aku tidak terlalu bisa bersahabat dengan orang-orang, cerita-cerita selama ini yang saling bertukar, hanya kuanggap biasa. Jujur, bagiku mereka hanya teman yang kebetulan ada dan enak diajak cerita. Siapapun orangnya. Meski baru kenal sehari lalu punya kontaknya. 

Aku mungkin terlalu menafikan hal itu, mungkin aku terlalu menuntut kalau seorang sahabat itu harus sempurna sedang aku bukanlah seorang yang sempurna. Maksudnya dia bisa selalu ada. Dia mendengarkan ceritaku dengan tulus, dia mengerti kekuranganku, dia tertawa melihat tingkahku, dia mengusir rasa sepiku, dia selalu bersamaku dan itu tak pernah kutemukan lagi. 

Hal yang paling aku benci adalah melihat persahabatan orang lain yang begitu akrab, tak peduli bagaimana aslinya mereka di baliknya. Aku memang selalu merasa sendiri. Aku selalu banyak memendam cerita yang sebenarnya sudah membusuk di dalam relung hati sanking tidak pernah terbukanya. Mungkin aku bukan tak mau temukan seorang sahabat. Tapi aku takbisa. Aku bahkan benci. Aku benci. 

Cukup sampai di sini, 
Air mataku sudah terlalu banjir sejak pertama memikirkan menulis ini. 

#30haringeblog
#blogjanuari
#blogkedelapan




Comments

Popular posts from this blog

Menua

Pacar Aissy

Let's Say Alhamdulillah